. Suku Ainu - Penduduk Asli di Jepang

Sunday, 8 August 2010

Suku Ainu - Penduduk Asli di Jepang

Suku Ainu (juga disebut Ezo
dalam teks-teks sejarah) adalah
sebuah kelompok etnis pribumi
di Hokkaidō, Kepulauan Kuril,
dan sebagian besar Sakhalin.
Diduga ada lebih dari 150.000
orang Ainu saat ini; namun
jumlahnya yang pasti tidak
diketahui karena banyak orang
Ainu yang menyembunyikan
asal-usul mereka karena
masalah etnis di Jepang.
Seringkali orang Ainu yang masih
hidup pun tidak menyadari garis
keturunan mereka, karena orang
tua dan kakek-nenek mereka
merahasiakannya untuk
melindungi anak-anak mereka
dari masalah sosial.
Etnonim mereka yang paling
terkenal berasal dari kata aynu,
yang berarti
"manusia" (dibedakan dengan
kamuy, makhluk ilahi) dalam
dialek Hokkaidō dari bahasa
Ainu; Emishi, Ezo atau Yezo (蝦
夷) adalah istilah-istilah bahasa
Jepang, yang diyakini berasal dari
bentuk leluhur kata Ainu
Sakhalin modern enciw atau
enju, yang juga berarti
"manusia". Istilah Utari (artinya
"kamerad" dalam bahasa Ainu)
kini lebih disukai oleh sejumlah
anggota kelompok minoritas ini.
Suku Ainu lama dipaksa oleh
pemerintah Jepang untuk
berasimiliasi dengan orang
Jepang (suku Yamato).
Pemerintah mengesahkan
undang-undang pada tahun
1899 yang menyatakan bahwa
suku Ainu adalah "bekas
pribumi" (disebut "bekas" karena
suku Ainu dimaksud akan
berasimilasi). Pada 6 Juni 2008
parlemen Jepang mengesahkan
resolusi yang mengakui bahwa
suku Ainu adalah "suku pribumi
dengan bahasa, kepercayaan,
dan kebudayaan yang berbeda"
sekaligus membatalkan undang-
undang tahun 1899 tersebut.
Asal-usul
Asal-usul suku Ainu belum
sepenuhnya diketahui. Mereka
seringkali dianggap Jōmon-jin,
penduduk asli Jepang dari
periode Jōmon. Penelitian DNA
mutakhir mengatakan bahwa
mereka adalah keturunan dari
suku Jomon kuno di Jepang.
"Suku Ainu yang tinggal di
tempat ini seratus ribu tahun
sebelum Anak-anak Matahari
datang" dikisahkan dalam salah
satu dari Yukar Upopo (legenda
Ainu) mereka.
Budaya Ainu berasal dari sekitar
1200 Mdan penelitian mutakhir
berpendapat bahwa hal ini
berasal dalam penggabungan
budaya Okhotsk dan Satsumon.
Ekonomi mereka didasarkan
pada pertanian maupun
berburu, menangkap ikan dan
mengumpul.
Laki-laki Ainu umumnya memiliki
rambut yang lebat. Banyak
peneliti awal menduga bahwa
mereka keturunan Kaukasus,
meskipun uji DNA mutakhir tidak
menemukan garis keturunan
Kaukasus. Uji genetik suku Ainu
membuktikan bahwa mereka
tergolong terutama kepada grup
haplo-Y D.
Satu-satunya tempat di luar
Jepang di mana grup haplo-Y D
lazim ditemukan adalah Tibet
dan Kepulauan Andaman di
Samudra Hindia. Dalam sebuah
studi oleh Tajima et al. (2004),
dua dari 16 sampel (atau 12,5%)
laki-laki Ainu ditemukan
tergolong dalam grup haplo C3,
yaitu grup haplo dengan
kromosom Y yang paling umum
di antara penduduk-penduduk
pribumi di Rusia Timur Jauh dan
Mongolia; Hammer et al. (2006)
menguji empat sampel lagi dari
laki-laki Ainu dan menemukan
bahwa salah satunya tergolong
ke dalam grup haplo C3.
Beberapa penelitia berspekulasi
bahwa pembawa grup haplo C3
yang minoritas di antara suku
Ainu ini mungkin mencerminkan
suatu tingka tertentu dari
pengaruh genetik satu arah dari
suku Nivkh, yang dengannya
suku Ainu telah lama memiliki
interaksi budaya. Menurut
Tanaka et al. (2004), garis
mtDNA mereka umumnya terdiri
dari grup haplo Y (21,6%) dan
grup haplo M7a (15,7%). Evaluasi
kembali belakangan ini tentang
ciri-ciri tulang tengkorak mereka
menunjukkan bahwa suku Ainu
lebih mirip dengan suku Okhotsk
daripada dengan suku Jōmon.
Hal ini sesuai dengan rujukan
kepada budaya Ainu sebagai
gabungan dari budaya Okhotsk
dan Satsumon yang dirujuk di
atas (^Hills^).

No comments:

Post a Comment

If you like my post and want to put my post, please write with "Credit or Source"

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...